tabber

Home » » Pembangunan Tower base transceiver station mengundang Kontraversi

Pembangunan Tower base transceiver station mengundang Kontraversi

Written By By: Agus Budi Tambunan on Rabu, 29 Mei 2013 | 13.20

"Perangkat desa hanya mementingkan keuntungannya Sendiri

Batam (PN),Pembangunan Tower base transceiver station (BTS) salah satu oprator celular di dekat pemukiman Kavling Patam Asri dan kavling Patam Indah mengundandang Kontraversi di kalangan warga setempat. 

Diduga Minimnya pengetahuan warga masyarakat setempat tentang efek yang di timbulkan (BTS) itu,maka mereka  tidak berani berkomentar alias hanya melihat-melihat dan diam.
 Seperti di kemukan Nara sumber kepada  Media ini 30/5,  salah seorang warga setempat,yang merasa keberatan atas pembangunan BTS ,Adi nama samaran (34) sangat menolak pembangunan Tower-BTS tersebut karena sangat berdekatan pemukimannya .tapi ia tidak berani mengutarakannya kepada perangkat RT setempat karena menurutnya,bahwa  Pak RT nya sudah menerima konvensasi antara 5 juta sampai 15 juta rupiah.

 
Ia mengatakan pendirian menara  Tower-BTS di simpang jalan itu sarat permainan, terutama bagi perangkat RT setempat ,warga setempat menilai Bahwa RT yang menerima dana hibah dari pengelola BTS tersebut tidak transfaransi kepada warga alias buat keputusan sendiri,"RT tidak pernah melakukan musyawarah pada Masyarakat di sini. tetapi sudah main bangun saja,dan santer pula terdengar seluruh RT di keluran Patam Asri dapat kompensasi ,apa mereka tidak memikirkan apa efeknya kedepan ?"ucapnya geram.

Setelah Media ini mencoba menghubungi Seorang RT setempat Kavling Patam Indah yaitu bapak Ibnu Lubis via handphone Celularnya menjawab, Benar kalau pihak  pengelola BTS tersebut memberikan Bantuan dana Hibah sebesar   5 juta rupiah, dan ia menyangkal kalau ia menerima 15 juta rupiah .

Setelah media ini mencari informasi,menemukan bahwa,Lokasi pembangunan BTS tersebut adalah lahan milik  seorang Petugas  Polisi .menurut informasi yang bisa dipercaya ,Pihak pengelola BTS mengontrak Lokasi itu 250 Juta Rupiah  per lima Tahun.tetapi yang paling tidak terima masyarakat adalah jaraknya terlalu mendekati jalan akses keluar masuk dan hanya berjarak ± 10 meter dari jalan utama.mereka takut bila-bila hujan datang  petir akan menyambarnya.

Tersiarnya berita ini, akibat dari minimnya informasi yang di berikan perangkat RT kepada Masyarakatnya tentang Pembangunan BTS tersebut,warga menuding RTnya seperti menutup-nutupi dana hibah yang di berikan pihak pengelola," giliran Duitnya RT diam-diam,pahal natinya efek dan resikonya yang di timbulkan dari radiasi BTS itu di bagi-bagi" tambahnya lagi.
Pembangunan menara Tower-BTS di pemukiman warga saat ini Sudah menjadi  tren tersendiri,termasuk di persimpangan kavling Patam Asri dan Patam Indah.


Apakah Dampak BTS terhadap Manusia ?

Dampak lain yang juga harus diperhatikan adalah dampak terhadap kesehatan warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi menara BTS.

Prof. Dr. dokter Anies MKes PKK,seorang Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, pernah melakukan penelitian pengaruh radiasi elektromagnetik terhadapkesehatan, Pembangunan tower telekomunikasi atau BTS (base transceiver station)yang bermunculan di berbagai daerah,bahkan telah menjadi problem perkotaan.

Salah satu hal yang perlu dilihat adalah adanya efek negatif gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh perangkat komunikasi selular tersebut.

Level batas radiasi elektromagnetik yang diperbolehkan menurut standar WHO (WorldHealth Organization) adalah 4,5 watt/m2 untuk perangkat yang menggunakan frekuensi 900 MHz dan 9 watt/m2 untuk frekuensi 1800 MHz.

 Level maksimum yang dikeluarkan oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers) 6watt/m2 untuk frekuensi 900 MHz dan 12 watt/m2 untuk frekuensi 1800 MHz.

Berdasarkan pengukuran di lapangan, pada jarak sekitar satu meter dari jalur pita pancar utama menara BTS yang berfrekuensi 1.800 MHz, diketahui bahwa totalradiasi yang dihasilkan sebesar 9,5 watt/m2. Jika tinggi pemancarnya sekitar 12meter, maka orang yang berada di bawahnya terkena radiasi sebesar 0,55 watt/m2.Secara teoritis, jumlah itu memang tidak berbahaya.

Meskipun hitungan secara matematis menunjukkan bahwa efek negatif pemancar berfrekuensi tinggi itu relatif kecil, beberapa negara justru mulai memperhatikannya secara serius.

Menurut Joachim Schuz, peneliti dari Universitas Mainz, Jerman, efek termal danradiasi pemancar selular merupakan wacana yang sedang diteliti secara intensif.Beberapa negara seperti Jerman, Austria, Spanyol, dan Perancis, telah meneliti efek radiasi elektromagnetik frekuensi tinggi dalam kaitannya dengan kesehatan.

Di samping efek radiasi, pemancar berfrekuensi tinggi itu juga menghasilkan efek termal di sekitar pemancarnya.semakin tinggi frekuensi suatu pemancar, semakintinggi pula panas yang dihasilkan. Sebagai contoh, pemancar berfrekuensi 1.900MHz dapat menghasilkan panas sampai 200 derajat celcius dalam radius dua meter.

Membahas dampak radiasi gelombang radio terhadap kesehatan manusia, tidak lepasdari energi yang dihasilkan oleh perangkat tersebut.pancarannya selalu mengikuti kaidah pancaran radiasi gelombang elektromagnetik. Hal itu dapat ditunjukkan dalam spektrum elektromagnetik.

Spektrum elektromagnetik dikelompokkan berdasarkan panjang gelombang, frekuensi, serta efeknya. 
apabila pemancar itu berfrekuensi900ñ1.900 MHz, bandingkan dengan frekuensi gelombang elektromagnetik dari peralatan elektronik yang hanya 50 Hz.
 
Adapun microwave oven bahkan jauh lebih besar lagi, yaitu 2,45 GHz. Padahal, semakin besar frekuensi dan semakin kecil panjang gelombangnya, efeknya lebih besar.
artinya, pemancar radio tersebut memang memiliki energi dan efek radiasi yang besar, sebesar radiasi yangditimbulkan oleh telepon selular (ponsel) kita.Namun, itu di udara, di sekitar tower.Padahal, faktor jarak manusia dengan sumber radiasi sangat berperan.

Semakin jauh jarak manusia dari sumber, semakin kecil radiasi yang diterima. Asumsinya, tidak ada manusia yang berada di awang-awang, bukan ? Jadi tidak perlu khawatir terhadap efek radiasinya.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai dari menara BTS itu adalah efek jangka panjang yang belum diketahui.
Kajian mendalam seharusnya justru kepada struktur tanah untuk pondasi menara BTS; apakah tanahnya labil, dan secara geologis termasuk daerah patahan atau tidak? Sebab, struktur bangunan menara itu sendiri yang dapat berisiko roboh dan menimbulkan bahaya kecelakaan.

Setelah media ini (Palapa Nusantara)mencoba mencari tahu  latar belakang lahan perumahan Bapak Adi mengaku bahwa lokasi pembangunan BTS tersebut adalah tanah Potongan (bukan Timbunan)

(Agus Budi Tambunan) 
Share this article :
 
Rekumendasi Blog By : Pimpinan Redaksi Surat Kabar Umum Palapa Nusantara l Oleh : Tolopan Silaban
Copyright © 2011. Palapa Nusantara Perwakilan Kepri - All Rights Reserved
Created blog by Agus Budi Tambunan. Published Post Oleh segenap Wartawan Palapa Nusantara kepulauan Riau